Home > dinullah, hukum Allah, islam, messenger > MIMPI MENCAPAI KEJAYAAN

MIMPI MENCAPAI KEJAYAAN

Beberapa waktu yang lalu…,aku agak tergelitik oleh salah seorang temanku,katanya kepadaku : ” …untuk mencapai kejayaan…kita harus menegakkan sunnah….” demikianlah kira-kira penggalan dari ucapan temanku itu.
Hari ini aku kembali teringat akan ucapannya itu…tapi…lagi-lagi yang bisa aku ingat tentang ” sunnah ” yang dimaksud temanku itu, salah satunya adalah – membiasakan diri mengerjakan ” sembahyang sunnat ” -. Mungkin di antara sekian teman yang membaca ini, akan ada yang cepet-cepat berkomentar: “…..oooohh itu… memang benar kita harus memperbanyak melakukannya ! karena itu adalah ” sunnah “…..” , Akan tetapi ketika aku bertanya kepada temanku yang lain. Apakah ” sunnah ” dan ” sunnat ” adalah dua kata yang bermakna sama ?
” Memangnya kenapa ? ” tanya temanku yang lainnya. Spontan saja aku jawab : ” Aku ingin mencapai kejayaan. Kejayaan di dunia dan di akherat “. Lalu…si-teman yang barusan tadi mencoba menjelaskan pemahamannya. Kata – sunnat – sampai hari ini belum ditemukan akar katanya oleh KPK ( Komosi Pencari Kata )….” …hahaha kamu bisa aja …” kataku kepadanya. Tapi kalau kata itu dikenakan kepada seorang anak yang disunat, artinya “…anunya…” lagi dipotong, N kalau dikenakan kata itu kepada seorang guru yang gajinya di- sunnat – ya artinya …gaji sang guru itu….terimanya tidak utuh karena di – tilep – sama si tukang sunnat tadi.
Loh…???!!! Bukankah yang namanya ” Tukang sunnat ” yang dimaksud adalah orang yang rajin mengerjakan – Sunnat -. Kataku kepadanya dengan penuh heran…???

Hari ini….adalah hari ke-enam, tepatnya jumat 29 may 2009…., aku masih terus mencoba menerawang cakrawala berfikir dari seorang teman yang “ merasa “ taat menjalankan peranan pengabdiannya kepada Sang Pengatur alam semesta ini .
Dengan rasa penasaran …aku kembali bertanya kepada temanku yang telah mencoba “ mereke-reka “ namun dengan gaya retorika dan improvisasinya yang begitu percaya diri terus mencoba menjelaskan pemahamannya kepadaku….,
Dengan maksud tidak ingin membuang waktu….ia kembali berkata kepadaku bahwa sebelum kita lebih lanjut mengupas korelasi antara dua kata di atas yaitu : – sunnah dan sunnat -, maka ada baiknya aku memberikan contoh ibadah yang bernilai sunnah adalah, ketika seseorang baru saja kembali dari suatu perjalanan …hendaknya ia mengerjakan sembahyang sunnat dua rakaat sebelum ia mengerjakan yang lainnya, demikian ia berkata kepadaku.
Lalu dengan antusias….aku mencoba mengajukan opini-ku terhadap penjelasannya itu….” kalau begitu kata-kata sunnah dan sunnat adalah dua kata yang menjelaskan suatu perbuatan yang berulang , artinya perbuatan yang secara turun-temurun telah dilaksanakan dan dicontohkan oleh para leluhur kita dengan maksud – mencontoh – perbuatan nabi . “. …..Ya-ialah…emang begitu maksudku….brur…, katanya menimpali. Payah juga nih teman ….pikirku, Dari tadi keq ngongnya !….hehehe…. Sambil tertawa….hahaha…., ia menepuk pundakku sambil berlalu. Tapi….apa iya….jalan mencapai kejayaan adalah hanya menjalankan tradisi-tradisi serupa itu (?).
dari contoh yang sederhana itu, terlihat betapa si-teman tadi ingin menggambarkan secara maknawi bahwa kata – sunnat – adalah metamorfosis dari kata – sunnah – yang nota bene adalah salah satu kata di dalam bahasa arab. Namun…sesungguhnya bukan itu masalahnya, ….sebab…sebegitu panjang bumi ini telah aku tapaki, kudapati…di setiap rumah-rumah ibadah…bahkan sepertinya di setiap jengkal bumi ini….aku melihat ….masih begitu banyak orang berupaya menjalankan – sunnah – yang serupa yang dimaksud oleh temanku itu, agar mimpi yang hendak digapainya….menjadi kenyataan bahwa pada hari itu kelak …mereka akan berkata bahwa : “ aku sebagai pribadi, sebagai bagian dari anak bangsa, sebagi anak-anak Adam, sebagai anak-anak Abraham ( Ibrahim )…, sebagai pengikut-pengikut Isa Al Masih, atau sebagai pengikut-pengikut Muhammad Rosulullah…, telah… MENCAPAI KEJAYAAN itu “, meski perbuatan serupa itu telah berlangsung selama berabad-abad, dan sekedar mengikut kepada perbuatan orang tua atau nenek moyangnya, meskipun orang-orang yang diikutinya itu tidak berpengetahuan tentang itu dan tidak mendapat petunjuk, maka kebanyakan dari mereka itu tetap tidak akan berpaling ….. Paling tidak data sejarahnya begitu !.
Benarkah harus demikian cara kita memahami dan menegakkan sunnah (?). Bukankah Allah-nya Adam, Allah-nya Abraham, Allah-nya Yesus, Allah-nya Muhammad Rosulullah dan Allah kita semua sampai hari ini telah mengajarkan di dalam Kitab-kItab-Nya melalui para utusan-Nya dengan berfirman “….mintalah kepada-Ku…niscaya Aku akan mengabulkannya… “, tetapi kenapa kejayaan yang didambakan oleh ummat yang merasa dan mengaku iman kepada-Nya harus mengalami nasib tragis seperti sekarang?.Haruskah penantian akan mimpi yang indah itu berakhirnya di – yawmil akhir -, berakhir ketika seluruh manusia se-jagad raya ini telah menjalani perose peng-hizaban di alam baqa sana ??? Tentu saja tidak !!! Kejayaan itu akan mewujud pada sa’ah yang telah ditetapkan oleh Allah, seperti halnya tatkala malam berganti dengan siang demikian pula sebaliknya, sebab Allah telah menyatakan…Dia-lah wali bagi orang-orang mukmin yang akan mengeluarkan mereka dari kegelapan ( kekafiran ) kepada cahaya, kepada terang, kepada siang, kepada yang haq…dan itulah KEJAYAAN… ,konkritnya silahkan baca QS 24 : 55 dan QS 33 : 27.
Kalau saja para ahli sunnah dan kita semua hari ini…mau sedikit mencerdasi bahwa perbuatan sunnah itu, sesungguhnya adalah suatu ajakan untuk kembali secara total menapak-tilasi perjalan para utusan-Nya sebagai penegasan pilihan “ hidup-mati “ bahwa tatanan dalam hidup dan berkehidupan menurut cara Allah adalah lebih unggul dari cara-cara manusia, bahwa sistim langit adalah jauh lebih baik daripada sistim bumi, bahwa cerita sejarah (qoshos ) beberapa bangsa besar di dalam Al-Quran dan di dalam Kitab-Kitab Allah yang lainnya yang diceritakan secara berulang, bukan mustahil tanpa maksud dan tujuan, sebab itu adalah pelajaran yang terbaik bagi manusia ( baca QS 12 : 111 ) , bagi para pemimpin bangsa-bangsa di dunia ini, yang seharusnya pelajaran itu …mampu memberikan inspirasi bagi dirinya di dalam menata kembali kehidupan yang semakin mendekati titik kehancurannya ini….!
Akan tetapi dikarenakan kesombongan dan kelalaian manusia itu sendiri, maka di dalam kitab dikatakan : ” ….wahai kamu yang mempunyai telinga, maka mendengarlah ! dan wahai kamu yang mempunyai mata, maka melihatlah !” Padahal Dia….Allah telah menegaskan : “….sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui….”. Dengan kata lain….MIMPI AKAN KEJAYAAN…itu, hanya akan tercapai…tatkala sunnah para rosul ( utusan Allah ) dilaksanakan dengan benar dan tepat. Benar…,karena dilaksanakan based on kitab-kitab Allah dan tepat karena memang inilah saatnya untuk kita bangun dari tidur , bangun dari kematian kita yang panjang….Semoga…Ssj 2 u all….

Salam,
Andi Dahlan

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: