Home > dinullah, hukum Allah > “DIEN” BISA MENGGIRING ORG KPD NAAR TP JG BISA BERUJUNG KPD JANNAH

“DIEN” BISA MENGGIRING ORG KPD NAAR TP JG BISA BERUJUNG KPD JANNAH

Muhammad Rasulullah adalah orang yang dikisahkan oleh Allah tentang para Nabi yang di dalamnya terdapat pengajaran tentang bagaimana iqomatiddien, sebab dien itu sebuah konsep sehingga dia harus punya cara untuk menegakkannya dan Allah tidak hanya mengajarkan tentang dien tapi juga menuntun Muhammad untuk bagaimana caranya iqomatiddien atau – an aqimuddien -.
Agar kita tidak tersesat maka pertama-tama harus difahami apa itu Ad-Dien, sebab kalau pemahaman tentang Dien sudah keliru maka jangan diharap kita bisa menegakkan itu Dien. Kita ambil contoh kalau Dien diartikan dalam frame arkanul islam, dimana sekarang ini Dien diartikan sama dengan Agama, sama dengan Islam, dan Islam itu adalah yang berhubungan dengan maghdoh (syahadat, shoalat, zakat, shoum, haji) maka hanya sebatas itu. Padahal yang lima ini adalah – bunyan – hanya sebuah syistem, alat, sarana untuk membina supaya Islam ini tegak. Yang lebih “ nyelenehnya “ lagi Islam dikatakan sama dengan isa, subuh, lohor, azar dan magrib, padahal sebenarnya isa itu bukan diawali dengan (i) alaif tapi (‘i) ‘ain, lohor-pun sebenarnya bukan lam, tapi dzuhur. Artinya semua itu hanya bikin-bikinan saja. Karena orang memahami Islam selalu sama dengan agama dan agama itu adalah suatu tata ritual yang berhubungan dengan maghdoh dalam bahasa Quran-nya, sedangkan di dalam Islam sesungguhnya maghdoh itu adalah salah satu bagian daripada syistem Dien itu.
Maka kalau pemahaman sudah direduksi, didegradasi dimana pengertian Dien sama dengan agama, sama dengan Arkanul Islam, maka – an aqimuddien – tegakkan Islam, berarti tegakkan shoalat yang disempurnakan dengan berhaji, selesai! Masya Allah betul-betul menyesatkan !.
Jadi kalau pengertian Dien sama dengan agama maka sesatlah manusia sedunia, sebab agama itu tidak mengandung hukum dan di dalam agama juga tidak ada jihad, hijrah, juga tidak ada qital, bedanya di situ !. Dengan kata lain bicara agama sama dengan bicara akhlak.
Alhamdulillah kita sudah keluar dari “ pola berpikir agama “ yang seperti itu sehingga kita paham bahwa Dien adalah : Ad-Dien wa syariah, al milah, al hukm. Oleh karena itu tegakkan Dien berarti tegakkan hukum. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara memperjuangkannya supaya tegak? Nah di sini kuncinya – ihdinasshirotol mustaqiiym – jadi harus ada sirothnya, sirothnya siapa? Yaitu : an amta ‘alaihim, berarti pahamlah kita bahwa Sunnah Rasul artinya dengan al fateha dapat ditemukan jawabnya.
Jadi kalau orang tidak tahu sirothol mustaqiiym, maka merekalah orang yang magdub, godhob dia, dhollin dia. Hari ini kalau ditanya : “ maa hua sirohol mustaqiiym? “ Paling dijawab : “…hazaa sirthol mustaqiiym (dengan menunjuk Quran ) “. Bahwa itu betul memang ia, tapi pertanyaannya Quran bicara apa tentang itu? Hanya sedikit sekali orang yang mampu menjawabnya, sebab pengertian -sirothol mustaqiiym- ini adalah suatu konsep kehidupan menegakkan Dien yang telah dilalui oleh para Rasul-Rasul (an ‘amta ‘alaihim). Jadi -an ‘amta ‘alaihim- sama dengan Adam sampai dengan Muhammad, itulah sirothol mustaqiiym. Oleh sebab itu qoshos Adam dan para Nabi itu merupakan petunjuk (hudan) tentang sirothol mustaqiiym, yang sekaligus merupakan jawaban Allah dari ihdina….dan Allah sudah menjawabnya, itulah jalan hidupnya para Nabi dan Rasul Allah.semoga dapat dimegerti.

Salam,
Andi Dahlan

Categories: dinullah, hukum Allah
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: