“Si Bathil” dan “Si Haq” gimana sih menurut Allah??

March 3, 2010 Leave a comment

Kemarin…,.. hari ini… gunung-gunung saling berbenturan….bumi pun mulai gelisah akibat ulah gunung-gunung itu yang tiada hentinya saling berbenturan..sehingga menyebabkan langit menjadi pecah…mereka berpecah pendapat dengan melakukan vote…terhadap opsi-opsi yg disajikan…, lantas adakah yg dapat menjamin ketentraman akan datang, kesejahteraan akan datang dengan perpecahan itu…bukankah Allah sendiri sangat membenci perpecahan semacam itu…QS. 30/31-32…

QS. 30/31-32 “31. dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, 32. yaitu orang-orang yang memecah-belah dien mereka[1169] dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”

dan bukankah Allah mengajarkan kita untuk tunduk patuh hanya kepada Allah, rasulnya dan para pemimpin diantara org-org mukmin(ulil amri) dan jika terjadi perpecahan di antar kamu bukankah Allah mengejarkan agar segala sesuatunya dikembalikan kepada Allah dan rasulnya QS. 4/59 ..tentu saja bukan serta merta dengan….”…neeehhhh Allah,…neeeh rasul…..gue serahin ke lu semua deh….masalahnya, coba diselesaikan..”, sambil ngarep ..dan merasa-rasa…bakalan kedatangan petunjuk dari Allah langsung…dari langit jedderrrrrrrrrrrrrrrr !!!! (ngaur mode on).

Berikut kutipan QS. 4/59 “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Yah…seharusnya gitu kata Allah..tapi koq gunung-gunung itu…lebih cenderung mengedepankan hawa nafsu dia yah…QS.45/23?? masing-masing sibuk membentuk opininya..yg sesat dan jelas-jelas ga ada benernya sedikit pun di mata Allah dan siap-siap menjadikannya lahar yg kemudian akan dimuntahkan…sehingga menambah panasnya situasi saat itu….”dasar gwoblok…udah panas malah makin dipanas-panasin ngawurrrrr neh gunung….”

Tetapi itulah fitrah penciptaan alam dan seisinya beserta manusia…semuanya akan tetap kepada fitrah itu tidak ada perubahan sedikit pun….

Qs.30./30 “30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[1168]”

….tidak ada perlakuan spesial bagi siapa saja, baik bagi gunung-gunung itu,..bagi bumi…dan bagi siapapun yg merasa ciptaan Allah…. Allah telah memberikan pilihan bagi hamba-hambanya…tiada paksaan sedikit pun mau sistem jahiliyah…atau mau sistemnya Allah..

QS.5/50 “50. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?”

Sebetulnya perjalanan kehidupan ini adalah skenario yang telah Allah tetapkan di dalam kitab-kitabnya, yang salah satunya tentu saja adalah Al-Qur’an, maka sangat memungkinkan jika sebagian besar manusia akan memerankan atau melakonkan peran sebagai “Si Bathil” dan sebahagian lagi akan memerankan peran sebagai “Si Haq”, lah…lantas aku yang mana ..??? Gampang…check it out at your hollybook..and don’t ever felt if you are in the right way before u check it out how the truth…gitu kata guru bhs inggris saya…

lahhh apa hubungannya dengan gunung-gunung yang saling berbenturan itu…?? tentu saja semua itu saling terkait sebab jika “Si Bathil” yg berberan sebagaii gunung..maka apapun ceritanya, pasti hasil yg diperoleh dan diusahakan oleh gunung itu adalah bentuk kebathilan…yang menyebabkan perpecahan pendapat,…yang telah membuat langit terbelah…, yang menyebabkan bumi merana.. akibat bentuk-bentuk kebathilan yg diperbuat oleh si gunung..”..bayangin aja 6,7 T lenyap ditelan oleh perut gunung…” lantas apakah “Si Bathil” bakal kenyang dengan 6,7 T gak bakal….!!!! yang ada “si Bathil” bakal ngulah lagi …dan ulah “Si Bathil” itu merupakan bagian dari rencana Allah juga dalam rangka menghancurkan “Si Bathil” dan pengikutnya… agar segera digantikan dengan “Si Haq”, apa iya yah..azab Allah ga sampai disitu aja..??? ya iyahlah….kalee… QS. 78/27-30

“27. Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab,”
“28. dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh- sungguhnya.”
“29. Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab[1548]”
“30. Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.”

di ayat 30 secara jelas Allah memberi peringatannya bahkan “Si Bathil” pake acara disuguhin lagi sama Allah…., lalu diayat 27 dan 28 merupakan penyebabnya,…karena “Si Bathil” sesungguhnya tidak takut dengan “yaumul qiyamah” bahwa kelak dia dan para pengikutnya akan dihisab oleh para malaikat-mailaikat Allah … dan sesungguhnya “Si Bathil” dan para pengikutnya telah mendustakan ayat-ayat allah dengan bersungguh-sungguh…”udah tau bener…malah ngotot bilang itu salah..pake urat lagi…mentang-mentang doi kerjanya mikul kitab.., tapi koq masih kaga ngarti juga ya…?? padahal udah dijelasin baik-baik pake kitab dia juga..,..didudukin baik-baik..biar bisa ngarti…, “ngarti sih iyah cuman doi gengsinya ketinggian kek gunung”… tapi koq modelnya persis keledai yg lagi mikul kitab yah??”

yah..mau gimana lagi itulah nilai yang pantas bagi orang-orang yg cenderung mengedepankan hawa nafsunya (An-Naffs)-nya, Allah menyesetakan mereka sesesat-sesatnya berdasarkan ilmunya, disebabkan oleh kesombongannya..keangkuhannya..yang cenderung meresa berkecukupan dalam hal ilmu….bahkan mereka pada umumnya melihat figur..melihat atribut..

Semoga saja tulisan ini dapat mengetuk kesadaran kita didalam menyikapi kitab-kitab Allah sebagai petunjuk hidup dan perlu saudara sadari bahwa tidak ada satu pun yang dapat menyelamatkan kita selain segala sesuatunya dikembalikan kepada Allah dan Rasulnya…Sebab Rasulullah Muhammad sendiri telah bernubuah/meramalkan di dalam Qs. 25/30 bahwa kelak kaumnya akan menjadikan Al-Qur’an menjadi sesuatu yang tidak dipedulikan lagi…dan ditambah penjelasan di Qs 6/116 Allah telah dengan jelas memperingati bagi kita semua yang punya kebiasaan menentukan sesuatu itu bernilai benar dengan melihat pilhan terbanyak (vote), ataukah dengan melihat figur seseorang…maka niscaya mereka akan menyesatkanmu…

“116. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)[500]. ”

…demikian kata Allah, disebabkan mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dengan mengira-ngira,..merasa-rasa..meraba-raba… dan mereka hanyalah berdusta demi tendensi pribadi mereka yang terselubung….., yang seharusnya mereka mendudukkan Al-Qur’an sesuai dengan fungsinya Qs. 2/185…

Salam,
Bask

Categories: dinullah, hukum Allah

MIMPI MENCAPAI KEJAYAAN

March 2, 2010 Leave a comment

Beberapa waktu yang lalu…,aku agak tergelitik oleh salah seorang temanku,katanya kepadaku : ” …untuk mencapai kejayaan…kita harus menegakkan sunnah….” demikianlah kira-kira penggalan dari ucapan temanku itu.
Hari ini aku kembali teringat akan ucapannya itu…tapi…lagi-lagi yang bisa aku ingat tentang ” sunnah ” yang dimaksud temanku itu, salah satunya adalah – membiasakan diri mengerjakan ” sembahyang sunnat ” -. Mungkin di antara sekian teman yang membaca ini, akan ada yang cepet-cepat berkomentar: “…..oooohh itu… memang benar kita harus memperbanyak melakukannya ! karena itu adalah ” sunnah “…..” , Akan tetapi ketika aku bertanya kepada temanku yang lain. Apakah ” sunnah ” dan ” sunnat ” adalah dua kata yang bermakna sama ?
” Memangnya kenapa ? ” tanya temanku yang lainnya. Spontan saja aku jawab : ” Aku ingin mencapai kejayaan. Kejayaan di dunia dan di akherat “. Lalu…si-teman yang barusan tadi mencoba menjelaskan pemahamannya. Kata – sunnat – sampai hari ini belum ditemukan akar katanya oleh KPK ( Komosi Pencari Kata )….” …hahaha kamu bisa aja …” kataku kepadanya. Tapi kalau kata itu dikenakan kepada seorang anak yang disunat, artinya “…anunya…” lagi dipotong, N kalau dikenakan kata itu kepada seorang guru yang gajinya di- sunnat – ya artinya …gaji sang guru itu….terimanya tidak utuh karena di – tilep – sama si tukang sunnat tadi.
Loh…???!!! Bukankah yang namanya ” Tukang sunnat ” yang dimaksud adalah orang yang rajin mengerjakan – Sunnat -. Kataku kepadanya dengan penuh heran…???

Hari ini….adalah hari ke-enam, tepatnya jumat 29 may 2009…., aku masih terus mencoba menerawang cakrawala berfikir dari seorang teman yang “ merasa “ taat menjalankan peranan pengabdiannya kepada Sang Pengatur alam semesta ini .
Dengan rasa penasaran …aku kembali bertanya kepada temanku yang telah mencoba “ mereke-reka “ namun dengan gaya retorika dan improvisasinya yang begitu percaya diri terus mencoba menjelaskan pemahamannya kepadaku….,
Dengan maksud tidak ingin membuang waktu….ia kembali berkata kepadaku bahwa sebelum kita lebih lanjut mengupas korelasi antara dua kata di atas yaitu : – sunnah dan sunnat -, maka ada baiknya aku memberikan contoh ibadah yang bernilai sunnah adalah, ketika seseorang baru saja kembali dari suatu perjalanan …hendaknya ia mengerjakan sembahyang sunnat dua rakaat sebelum ia mengerjakan yang lainnya, demikian ia berkata kepadaku.
Lalu dengan antusias….aku mencoba mengajukan opini-ku terhadap penjelasannya itu….” kalau begitu kata-kata sunnah dan sunnat adalah dua kata yang menjelaskan suatu perbuatan yang berulang , artinya perbuatan yang secara turun-temurun telah dilaksanakan dan dicontohkan oleh para leluhur kita dengan maksud – mencontoh – perbuatan nabi . “. …..Ya-ialah…emang begitu maksudku….brur…, katanya menimpali. Payah juga nih teman ….pikirku, Dari tadi keq ngongnya !….hehehe…. Sambil tertawa….hahaha…., ia menepuk pundakku sambil berlalu. Tapi….apa iya….jalan mencapai kejayaan adalah hanya menjalankan tradisi-tradisi serupa itu (?).
dari contoh yang sederhana itu, terlihat betapa si-teman tadi ingin menggambarkan secara maknawi bahwa kata – sunnat – adalah metamorfosis dari kata – sunnah – yang nota bene adalah salah satu kata di dalam bahasa arab. Namun…sesungguhnya bukan itu masalahnya, ….sebab…sebegitu panjang bumi ini telah aku tapaki, kudapati…di setiap rumah-rumah ibadah…bahkan sepertinya di setiap jengkal bumi ini….aku melihat ….masih begitu banyak orang berupaya menjalankan – sunnah – yang serupa yang dimaksud oleh temanku itu, agar mimpi yang hendak digapainya….menjadi kenyataan bahwa pada hari itu kelak …mereka akan berkata bahwa : “ aku sebagai pribadi, sebagai bagian dari anak bangsa, sebagi anak-anak Adam, sebagai anak-anak Abraham ( Ibrahim )…, sebagai pengikut-pengikut Isa Al Masih, atau sebagai pengikut-pengikut Muhammad Rosulullah…, telah… MENCAPAI KEJAYAAN itu “, meski perbuatan serupa itu telah berlangsung selama berabad-abad, dan sekedar mengikut kepada perbuatan orang tua atau nenek moyangnya, meskipun orang-orang yang diikutinya itu tidak berpengetahuan tentang itu dan tidak mendapat petunjuk, maka kebanyakan dari mereka itu tetap tidak akan berpaling ….. Paling tidak data sejarahnya begitu !.
Benarkah harus demikian cara kita memahami dan menegakkan sunnah (?). Bukankah Allah-nya Adam, Allah-nya Abraham, Allah-nya Yesus, Allah-nya Muhammad Rosulullah dan Allah kita semua sampai hari ini telah mengajarkan di dalam Kitab-kItab-Nya melalui para utusan-Nya dengan berfirman “….mintalah kepada-Ku…niscaya Aku akan mengabulkannya… “, tetapi kenapa kejayaan yang didambakan oleh ummat yang merasa dan mengaku iman kepada-Nya harus mengalami nasib tragis seperti sekarang?.Haruskah penantian akan mimpi yang indah itu berakhirnya di – yawmil akhir -, berakhir ketika seluruh manusia se-jagad raya ini telah menjalani perose peng-hizaban di alam baqa sana ??? Tentu saja tidak !!! Kejayaan itu akan mewujud pada sa’ah yang telah ditetapkan oleh Allah, seperti halnya tatkala malam berganti dengan siang demikian pula sebaliknya, sebab Allah telah menyatakan…Dia-lah wali bagi orang-orang mukmin yang akan mengeluarkan mereka dari kegelapan ( kekafiran ) kepada cahaya, kepada terang, kepada siang, kepada yang haq…dan itulah KEJAYAAN… ,konkritnya silahkan baca QS 24 : 55 dan QS 33 : 27.
Kalau saja para ahli sunnah dan kita semua hari ini…mau sedikit mencerdasi bahwa perbuatan sunnah itu, sesungguhnya adalah suatu ajakan untuk kembali secara total menapak-tilasi perjalan para utusan-Nya sebagai penegasan pilihan “ hidup-mati “ bahwa tatanan dalam hidup dan berkehidupan menurut cara Allah adalah lebih unggul dari cara-cara manusia, bahwa sistim langit adalah jauh lebih baik daripada sistim bumi, bahwa cerita sejarah (qoshos ) beberapa bangsa besar di dalam Al-Quran dan di dalam Kitab-Kitab Allah yang lainnya yang diceritakan secara berulang, bukan mustahil tanpa maksud dan tujuan, sebab itu adalah pelajaran yang terbaik bagi manusia ( baca QS 12 : 111 ) , bagi para pemimpin bangsa-bangsa di dunia ini, yang seharusnya pelajaran itu …mampu memberikan inspirasi bagi dirinya di dalam menata kembali kehidupan yang semakin mendekati titik kehancurannya ini….!
Akan tetapi dikarenakan kesombongan dan kelalaian manusia itu sendiri, maka di dalam kitab dikatakan : ” ….wahai kamu yang mempunyai telinga, maka mendengarlah ! dan wahai kamu yang mempunyai mata, maka melihatlah !” Padahal Dia….Allah telah menegaskan : “….sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui….”. Dengan kata lain….MIMPI AKAN KEJAYAAN…itu, hanya akan tercapai…tatkala sunnah para rosul ( utusan Allah ) dilaksanakan dengan benar dan tepat. Benar…,karena dilaksanakan based on kitab-kitab Allah dan tepat karena memang inilah saatnya untuk kita bangun dari tidur , bangun dari kematian kita yang panjang….Semoga…Ssj 2 u all….

Salam,
Andi Dahlan

TIMBANGANNYA BENAR, UKURANNYA BENAR….APANYA YANG SALAH YAH (?)

March 2, 2010 Leave a comment

Suatu hari di pagi-pagi buta tepatnya selepas waktu subuh, dimana sang surya masih enggan beranjak dari peraduannya,. ..aku berjalan di tengah –tengah keramaian orang yang begitu banyak dan penuh dengan hiruk-pikuk yang di iringi dengan ajakan…,nyanyian…bahkan teriakan-teriakan sedang… yang dimaksudkan untuk mendapatkan perhatian orang, agar jualannya laku dibeli orang yang sedang berlalu lalang di sekitar mereka…
Oh…rupanya tempat itu adalah – pasar pagi – ( begitu orang menyebutnya ), sebab selepas waktu yang diizinkan untuk berjualan maka tempat itu harus segera dibersihkan untuk difungsikan kembali sebagai jalan raya.
Tidak terasa…keringat-pun mulai bercucuran membasahi kaos oblong yang kukenakan, seiring dengan sinar mentari yang semakin terasa menembus dan menghangatkan udara yang tadinya masih dingin…Lalu akupun bermaksud untuk segera pulang ke rumah dengan berjalan ke arah dimana aku tadi parkir kendaraanku, sebelum aku membuka pintu mobil…lewatlah seorang ibu ditemani pembantunya sambil berkata : “ …penjual buah itu … tadi sepertinya curang deh ya bu nimbangnya ?!…”. Kemudian ibu itu menjawab : “…yah sudahlah…mana ada – hare gene –timbangan yang tepat ! apa-apa juga…banyakan cuman ngira-ngira doang… !”.
Sambil mengarahkan mobil menuju kembali ke rumah…aku berfikir…dan berkata pada diriku sendiri…” benar ibu yang tadi,…hari ini jangankan timbangan yang dikira-kira…hal terpenting dalam hidup manusia di dalam menjalankan perannya sebagai abdi Allah juga kebanyakan dilakukan dengan mengira-ngira tanpa ada “ ukuran dan timbangan “ yang tepat dan pasti, padahal “ ukuran dan timbangan “yang dimaksud masih ada…hanya saja kebanyakan orang sudah meninggalkannya dan tidak mengetahuinya…dalam bahasa Kitabullah dikatakan ….”… walakin aksaronnasa laa ya’lamuun…”.
Andai saja suatu hari….salah satu atau beberapa di antara kita ada yang berbelanja ke suatu tempat dan membeli sesuatu dengan ukuran berat atau ukuran panjang, ataukah ukuran bilangan barang maka…dipastikan, sebelum kita beranjak dari tempat membeli itu …biasanya kita sudah yakin akan berat timbangan,…ukuran panjang atau jumlah satuan barang yang kita inginkan.Tentu saja dalam hal ini…bukan berarti ukuran atau timbangannya yang tidak ada, tapi cara si tukang jual memilih dan menentukan alat ukur dan bagaimana menggunakannya….itulah yang menentukan akan keyakinan kita, padahal kita juga tidak pernah dan tidak mungkin memeriksa timbangan atau ukuran yang digunakannya.
Dalam kasus seperti ini….orang-orang yang punya kecerdasan ilahiyah yang “ hidup “….diharapkan untuk punya keberanian keluar dari “ doktrin buta “ bahwa ukuran kebenaran bukan di sandarkan pada rasa atau pada opini orang, tetapi sandarkanlah pada ukuran dan timbangan “ Sang Tuan dari segala tuan “ sebagai pencipta , pemilik, penguasa dan pemelihara alam jagad raya ini. Pahamilah penjelasan tentang “ timbangan “ dari timbangan itu sendiri. Dengan demikian…kita tidak lagi disibukkan untuk mencari dan hanya mencari hal-hal di luar timbangan itu sendiri….sebab di dalam timbangan itu telah dijelaskan segala sesuatu. Semoga dimengerti…!

Salam,
Andi Dhalan

Categories: Allah, Ilah, islam

HOW TO CREATE THE CHANGE (?)

March 2, 2010 Leave a comment

Pada hakekatnya alam semesta sudah ditata sedemikian rapi oleh – Allah Rabbil ‘Alamiyn – sampai mencapai titik – miitsaan – (kesetimbangan). Akan tetapi titik kemitsanan itu bisa terganggu apabila komunitas manusia yang ada di muka bumi ini tidak miitsaan, dalam arti tidak adanya suatu bentuk masyarakat yang stabil, masyarakat yang tidak stabil adalah masyarakat yang “ hobby “ melakukan pertumpahan darah, masyarakat “ binatang “ yang -ba’dukum liba’din aduwwun- Mari kita perhatikan petikan dialog antara Allah dan Malaikat yang digambarkan secara fragmentasi di dalam Alquran (QS.2 : 30) , tatkala Allah hendak menjadikan Nabi Adam sebagai Khalifah…berkatalah malaikat : “ …ataj’alu fiihaa man yufsidu fihaa wa yasfiku addimaa a… “, yang artinya : “…mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah…”
Supaya tidak terjadi seperti yang dikhawatirkan oleh malaikat itu, atau seperti yang kita saksikan hari ini, dimana suatu bangsa yang kuat menindas bangsa yang lemah – como comuni lipus -, maka manusia harus – back to – fitrah Allah, kembali kepada suatu tata cara hidup yang penuh dengan kepastian dan kejelasan, yang kesemuanya telah di-elaborate secara apik oleh Allah. Maka semua model kehidupan yang di luar daripada yang dimaksudkan oleh Allah itu, tidak dapat lagi disebut kehidupan masyarakat manusia tetapi telah berubah menjadi kehidupan masyarakat – an ‘aam/binatang -, sebab sangat tidak cocok dengan fitrahnya manusia. Masyarakat manusia bukan dilandasi dengan kekuatan atau – power – baik ekonomi maupun angkatan perang, tetapi masyarakat manusia itu adalah masyarakat moral, masyarakt akhlak, masyarakat yang – ruhamaa’u bainahum – yang menyayangi orang lain seperti menyayangi dirinya sendiri, tanpa memandang agamanya. Jika masyarakat seperti ini sudah tercipta sebagai bentuk masyarakat yang tertinggi, maka seluruh makhluk Allah, jangankan manusia semut pun akan mendapat barokah, mendapat rahmat dari alam ini jika kehidupan ini kembali kepada fitrah Allah.
Untuk mensetimbangkan kehidupan – fi al ardhi – ini, jangan sampai “ataj’alu fiihaa man yufsidu fihaa wa yasfiku addimaa a “ maka diperlukan “ Hua allazii ba’asya fil ummiyyiina rasuulan minhum… “ yang bertugas membacakan dan mengajarkan wahyu, dien Allah itu, agar manusia bersih dari segala bentuk perbuatan syirik, dan mengajarkan hukum atau undang-undang Allah, serta kebijaksanaan sebagai seorang pemimpin dalam memimpin ummatnya, padahal kaum Adam pada waktu itu dalam kesesatan yang nyata. Artinya ini merupakan sunnah bagi seluruh Nabi dan Rasul Allah. Dengan adanya suatu – Sulthon – dalam kehidupan di bumi ini “ waj’alnii milladunka sulthonan nasiiroo “ buatkanlah Ya Allah dari sisi Engkau ini – Sulthon -, sebab misi daripada ummat yang taat dan tunduk patuh kepada-Mu ini adalah “ ta’muruuna bi al ma’ruf wa tanhauna ‘anil munkar “, caranya bukan dengan cara-cara parsial seperti sekarang. Tetapi harus merupakan satu komunitas yang utuh, solid dan kuat, sehingga sanggup “ liyudzhirohu ‘alaa addiini kullih “ dalam arti menundukkan dan mengalahkan syistem-syistem yang tadinya ada dan menggantikan mereka.
Dengan tegaknya – Sulthon – itu maka berlakulah hukum Allah, dengan demikian barulah disebut ibadah. Ibadah adalah melaksanakan hukum Allah di bumi Allah. Adapun tingkat ibadah (jika merujuk kepada apa yang dulu pernah dicontohkan oleh Muhammad Rasulullah) ada dua fase yaitu : Fase Makkiyah sebagai peroses da’wah dan Fase Madaniyah sebagai peroses mendzohirkan dien, sampai terwujudnya Khilafah. Karena khilafah itu aktualisasi visinya adalah “ fi al ardhi “ maka sasarannya adalah dunia. Wahai anda yang bertelinga, bermata dan berotak… maka mendengarlah…, melihatlah… dan berfikirlah ! Tentukan pilihan hidupmu dan lakukan perubahan…Semoga !

Salam,
Andi Dahlan

Categories: dinullah, hukum Allah

“DIEN” BISA MENGGIRING ORG KPD NAAR TP JG BISA BERUJUNG KPD JANNAH

February 22, 2010 Leave a comment

Muhammad Rasulullah adalah orang yang dikisahkan oleh Allah tentang para Nabi yang di dalamnya terdapat pengajaran tentang bagaimana iqomatiddien, sebab dien itu sebuah konsep sehingga dia harus punya cara untuk menegakkannya dan Allah tidak hanya mengajarkan tentang dien tapi juga menuntun Muhammad untuk bagaimana caranya iqomatiddien atau – an aqimuddien -.
Agar kita tidak tersesat maka pertama-tama harus difahami apa itu Ad-Dien, sebab kalau pemahaman tentang Dien sudah keliru maka jangan diharap kita bisa menegakkan itu Dien. Kita ambil contoh kalau Dien diartikan dalam frame arkanul islam, dimana sekarang ini Dien diartikan sama dengan Agama, sama dengan Islam, dan Islam itu adalah yang berhubungan dengan maghdoh (syahadat, shoalat, zakat, shoum, haji) maka hanya sebatas itu. Padahal yang lima ini adalah – bunyan – hanya sebuah syistem, alat, sarana untuk membina supaya Islam ini tegak. Yang lebih “ nyelenehnya “ lagi Islam dikatakan sama dengan isa, subuh, lohor, azar dan magrib, padahal sebenarnya isa itu bukan diawali dengan (i) alaif tapi (‘i) ‘ain, lohor-pun sebenarnya bukan lam, tapi dzuhur. Artinya semua itu hanya bikin-bikinan saja. Karena orang memahami Islam selalu sama dengan agama dan agama itu adalah suatu tata ritual yang berhubungan dengan maghdoh dalam bahasa Quran-nya, sedangkan di dalam Islam sesungguhnya maghdoh itu adalah salah satu bagian daripada syistem Dien itu.
Maka kalau pemahaman sudah direduksi, didegradasi dimana pengertian Dien sama dengan agama, sama dengan Arkanul Islam, maka – an aqimuddien – tegakkan Islam, berarti tegakkan shoalat yang disempurnakan dengan berhaji, selesai! Masya Allah betul-betul menyesatkan !.
Jadi kalau pengertian Dien sama dengan agama maka sesatlah manusia sedunia, sebab agama itu tidak mengandung hukum dan di dalam agama juga tidak ada jihad, hijrah, juga tidak ada qital, bedanya di situ !. Dengan kata lain bicara agama sama dengan bicara akhlak.
Alhamdulillah kita sudah keluar dari “ pola berpikir agama “ yang seperti itu sehingga kita paham bahwa Dien adalah : Ad-Dien wa syariah, al milah, al hukm. Oleh karena itu tegakkan Dien berarti tegakkan hukum. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara memperjuangkannya supaya tegak? Nah di sini kuncinya – ihdinasshirotol mustaqiiym – jadi harus ada sirothnya, sirothnya siapa? Yaitu : an amta ‘alaihim, berarti pahamlah kita bahwa Sunnah Rasul artinya dengan al fateha dapat ditemukan jawabnya.
Jadi kalau orang tidak tahu sirothol mustaqiiym, maka merekalah orang yang magdub, godhob dia, dhollin dia. Hari ini kalau ditanya : “ maa hua sirohol mustaqiiym? “ Paling dijawab : “…hazaa sirthol mustaqiiym (dengan menunjuk Quran ) “. Bahwa itu betul memang ia, tapi pertanyaannya Quran bicara apa tentang itu? Hanya sedikit sekali orang yang mampu menjawabnya, sebab pengertian -sirothol mustaqiiym- ini adalah suatu konsep kehidupan menegakkan Dien yang telah dilalui oleh para Rasul-Rasul (an ‘amta ‘alaihim). Jadi -an ‘amta ‘alaihim- sama dengan Adam sampai dengan Muhammad, itulah sirothol mustaqiiym. Oleh sebab itu qoshos Adam dan para Nabi itu merupakan petunjuk (hudan) tentang sirothol mustaqiiym, yang sekaligus merupakan jawaban Allah dari ihdina….dan Allah sudah menjawabnya, itulah jalan hidupnya para Nabi dan Rasul Allah.semoga dapat dimegerti.

Salam,
Andi Dahlan

Categories: dinullah, hukum Allah

PARADIGMA MEMAHAMI ALLAH DI DALAM KATA-KATA “TUHAN” ATAU “TUAN”

February 22, 2010 Leave a comment

Salam dan Sejahtera selalu….kepada para sahabat saya yang senantiasa memiliki kecerdasan ilahiyah dan semangat yang tinggi yang tentu saja dengan landasan ilmu yang mendalam untuk menjadikan kitab-kitab Allah sebagai ” fundamen ” di dalam bertutur kata dan berbuat. Pada kesempatan kali ini, perkenankan saya untuk menjelaskan kata ” Tuhan ” yang saya tulis agak ” berbeda ” dengan yang umumnya difahami kebanyakan orang.
Pernah suatu ketika saya menulis kata-kata ” Tuhan ” yang saya tulis dalam bentuk tulisan kata yang tidak lazim dikenal orang yaitu ” Tu[h]an “,…..kemudian kontan saja membuat salah satu sahabat saya bertanya : “…..kenapa sih kata ” Tuhan ” kamu tulis ” Tu[h]an “….? Demikian ia bertanya kepada saya, lalu hari ini…saya mencoba menjelaskannya seperti ini :
Nah mengenai kata ” Tu[h]an” yg umumnya org tulis Tuhan, penjelasanx begini bos :
Coba deh qt buka QS.51(Adz Dzaariyat) Ayat 56 : ” Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya’buduwn” Artinya : ” Dan Aku (Allah) tdk menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” Demikian transliterasinya oleh para mufassirin (para penafsir Quran) umumnya. Kata kerja “liya’buduwn” berasal dari akar kata ” ‘abudu atau ‘abid “. ‘abid itu artinya ” hamba atau budak ” maka Allah dalam posisi Al Kholiq (pencipta) adalah ” Ma’bud ” atau dlm pengertian ” Yg di Abdi atau di ibadati “. Di dalam suatu perjalanan pengabdian maka salah satu bentuk pengabdian secara simbolik adalah dengan ” menyembah atau sembahyang”, yaitu prosesi secara ritual penyembahan kepada ” Sang Tuan ” sebagai ” Raja diraja ” yang teragung. Sedangkan essensi dari pengabdian itu sendiri bukanlah terletak pada prosesi ritualnya saja, akan tetapi lebih kepada ketaatan ” sang hamba atau sang budak ” di dalam melaksanakan secara ikhlas segala perintah, aturan atau undang-undang ” Sang Tuan ” yang menjadi tempat ” sang budak atau sang hamba ” bergantung akan segala hal kepada ” tuannya”. Jadi sesungguhnya akan lebih mudah dicerna dan difahami jika ” Allah ” di dudukkan sebagai ” Sang Tuan ” yang tertinggi. Artinya orang-orang sedunia ini mestinya sadar bahwa meskipun dia merasa adalah seorang ” tuan “, yg merasa bahwa segala kuasa, harta dan kedudukan ada padax, maka seyogianya dia SADAR bahwa dirinya itu sesungguhnya hanyalah seorang HAMBA atau BUDAK di hadapan ” Sang Tuan ” Yang Maha Agung itu. Jd janganlah qt terikut terus menerus tanpa ILMU kepada doktrin tentang kata ” Tuhan ” yang adanya hanya di Indonesia saja. Di luar negeri misalx org Arab bilang ” Allah ” atau dalam bahasa Inggeris dikenal dg ” The Lord atau The God ” yang akar katanya jelas dan yg dituju itu adalah ” Allah ” sebagai ” Tuan ” satu-satunya yg memiliki puncak keagungan, kebesaran dan kemuliaan tertinggi. Kalau kita mau jujur sebagai orang yang mau berpikir secara cerdas….maka padanan kata yang tepat dengan ” The God, The Lord, Allah atau YHWH (baca : Yahwe dalam bahasa Ibrani) ” itu adalah ” Tuan” dan bukan ” Tuhan “. Sebab di dalam kamus bahasa Indonesia maka pemaknaan arti kata ” Tuhan ” itu sebenarnya adalah ” Tuan” yg secara maknawi mudah dicerna dan jelas akar katanya. Akan tetapi kata ” Tuhan ” secara ilmu bahasa, jelas tidak ber-akar kata. akan tetapi pemaknaannya di sejajarkan dg arti dari kata ” tuan “. Jd kesimpulannya Tuhan sebagai ” Tuan ” dari semua makhluk di seantero jagad raya ini adalah yg memiliki segala kuasa,kemuliaan,keagungan dan kebesarn-Nya yang tentu saja berbeda dengan mereka yang meresa sebagai ” tuan ” yang pada hakekatnya hanyalah seorang abdi, hamba atau budak Allah.
Penyebab utama turunnya Azab Allah kepada masal manusia hari ini, karena manusia telah melampaui batas statusnya yg seharusnya hanya sebagai hamba,budak atau abdi TELAH BERUBAH menjadi ” andaad ” tandingan atau rival bagi Allah sebagai satu-satunya ” Tuan “. Coba qt baca sindiran Allah pada QS.45(Al Jaatsiyah) Ayat 23 yang berbunyi : ” Maka apakah pernah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberikan petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat), maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran? “. Demikian Penjelasan saya bos tentang kata ” Tuhan ” yang saya tulis dengan memasukkan huruf [h] seperti ini, agar orang-orang itu mau berfikir….semoga dimengerti. Salam dan Sejahtera selalu.Puji Allah. Tu[h]an semesta alam. Allah-nya Adam, Allah-nya Abraham (Ibrahim), Allah-nya Musa (Moses), Allah-nya Isa, Allah-nya Muhammad Rasulullah dan Allah kita semua….Wassalam.

Salam,
Andi Dahlan

Categories: Allah, Ilah

THE MESSENGER

February 22, 2010 Leave a comment

Mungkin bagi sebahagian orang atau bahkan kebanyakan orang hari ini…sudah tidak lagi menjadikan pemahaman akan peran “ Sang Pesuruh atau Sang Kurir” sebagai satu keniscayaan untuk dicerdasi…Sebab sesungguhnya segala yang mewarnai daripada peradaban masa lalu hingga masa sekarang ini,tidak mungkin dapat dipisahkan dengan peran “ The Messenger “ itu sendiri…
Jika ada yang mengambil peran sebagai “ Pesuruh “ maka tentu saja akan menjadi lebih jelas peran itu tatkala ada yang berperan sebagai “ Pemimipin “ atau yang memberi perintah…Adalah hal yang lazim bagi kita bahwa kata-kata “ Pesuruh “ lawannya adalah “ Pemerintah “….sebab jika ada yang disuruh tentu ada yang menyuruhnya atau memerintahnya. Persoalannya adalah siapa sesungguhnya yang berhak mengambil peran sebagai “ Yang Memerintah atau Pemerintah “ dan siapa yang pantas menjadi “ Pesuruh atau The Messenger “ ?…..Pengajaran seperti inilah yang sesungguhnya telah hilang dari kesadaran anak manusia. Carut-marutnya kehidupan manusia hari ini….karena mereka telah merubah perannya sebagai sang pesuruh menjadi pemerintah atau “ Sang Tuan “…Mungkin pernyataan seperti ini menjadi sesuatu yang terasa asing di telinga main stream…atau bahkan dikalangan para cendekia…Tapi paling tidak penulis berharap bahwa ….mari kita jadikan “ bacaan “ ini sebagai bahan untuk introspeksi diri…
Sudah pernakah sampai kepada kita bahwa telah tersebut di dalam pengajaran Sang Tuan dari semua tuan yang ada di alam semesta ini…bahwa yang pantas menjadi “ Tuan “ atau “ Pemerintah “ itu hanyalah diri-Nya saja…lain tidak ! Maka tatkala “ The Real Pemerintah ( Allah ) “ berkehendak untuk menggenapi diri-Nya sebagai “ Sang Tuan atau Sang Pemerintah “ maka di utusnyalah kembali seorang anak manusia dari kalangan manusia itu sendiri untuk menjelaskan rencana-rencana dari “ Sang Tuan “ itu…Kita lihat saja salah satu penjelasan-Nya di dalam QS.12 (Yusuf) : Ayat 111….Betapa sejarah telah membuktikan bahwa para “ The Messengers ( Para Rasul ) “ Allah dengan segala resiko dan konsekwensi yang harus dihadapinya dengan mengorbankan seluruh harta dan bahkan jiwa raganya…telah berhasil merubah peradaban dunia ini menjadi “ Peradaban “ yang penuh dengan berkat…Merubah peradaban yang penuh dengan penentangan kepada “ Sang Tuan “… kepada keta’atan terhadap “ Sang Tuan “ yang Maha Tunggal itu…sehingga bersinar teranglah kembali dunia pada saat itu…dan keadilan Tu[h]an pun mewujud di dalam diri anak manusia yang diberikan amanah untuk melaksanakan Pemerintahan Allah…di bumi Allah !….Itulah sesungguhnya pelajaran yang mestinya disyukuri untuk dijadikan “ spirit penggerak” bagi tegaknya kembali system yang haq itu…Sehingga tidaklah berlebihan jika ada sekelompok anak manusia hari ini yang mengharapkan datangnya kembali “ The Messenger “ itu….guna dapat memimpin anak manusia di dunia hari ini…keluar dari ketersesatannya mengabdi kepada “ tuan-tuan “ palsu itu…menuju kepada pangabdian dan keta’atan kepada-Nya saja. Sebab bagi “ tuan-tuan “ palsu itu, sesungguhnya menyelamatkan dirinya sendiripun…mereka tidak sanggup ! Dan apa yang mereka janjikan itu hanyalah fatamorgana saja…hanya tipuan belaka !.
Di dalam tiga kitab suci yang menjadi bacaan utama bagi milyaran anak manusia hingga hari ini…telah banyak diceritakan bahwa sungguh telah berulang dan berulang… suatu peradaban yang yang dibangun atas dasar pemuasan nafsu dan kepentingan golongan…,baik itu kepentingan golongan yang “ berkiblat “ ke barat atapun kepentingan golongan yang “ berkiblat “ ke timur, telah silih berganti dihancurkan melalui tangan-tangan “ Sang Tuan “ yang Maha Agung itu…!
Di utusnya para “ The Messengers “ oleh Tu[h]an….seperti Moses, Dawd, Salamo, Yesaya, Jeremiya…sampai kepada “ Sang Mesiyas “ di eranya masing-masing, tentu saja bukan tanpa tujuan yang tidak jelas dan tidak adanya keterkaitan misi dan visi yang sama…Sebab para “ The Messengers “ itu, hanyalah sebagai “ kurir “ atau ibarat “ tukang pos “ yang di tugaskan untuk menyampaikan “ surat “ dari “ Sang Tuan “ bagi kepentingan manusia seluruhnya….Dengan demikian jelaslah bagi mereka yang mau mencerdaskan akal fikirannya bahwa tujuan utama dari isi surat “ Sang Tuan “ yang diperintahkan kepada para “ The Messengers “ itu, adalah mentegakkan dien-Nya (The uneverse system-Nya) sebagai orang yang mendapat “ peng-absyahan atau khatam “ bagi tugas yang di embannya dari “ Sang Tuan “ … untuk selanjutnya menjadi “ The guidance of thingking “ dari “ The Messengers “ dan orang-rang yang bersamanya…
Akhirnya melalui tulisan ini saya ingin menegaskan jawaban terkait dengan pertanyaan salah seorang teman saya (di FB ini),….bahwa yang menjadi dasar untuk mengenal dan menjadikan timbulnya keyakinan kepada “ Sang Pembebas “ sebagai “ The Messenger “ …maka lihat, dengar dan fikirkanlah apa visi dan misinya….Jika visi dan misi yang diembannya adalah sama dengan visi dan misi yang telah dilaksanakan oleh “ The Messengers “ pendahulunya … Tentu tidak ada alasan untuk menolaknya…Demikian !

Salam,
Andi Dahlan

Categories: messenger