Home > Allah, Ilah > PARADIGMA MEMAHAMI ALLAH DI DALAM KATA-KATA “TUHAN” ATAU “TUAN”

PARADIGMA MEMAHAMI ALLAH DI DALAM KATA-KATA “TUHAN” ATAU “TUAN”

Salam dan Sejahtera selalu….kepada para sahabat saya yang senantiasa memiliki kecerdasan ilahiyah dan semangat yang tinggi yang tentu saja dengan landasan ilmu yang mendalam untuk menjadikan kitab-kitab Allah sebagai ” fundamen ” di dalam bertutur kata dan berbuat. Pada kesempatan kali ini, perkenankan saya untuk menjelaskan kata ” Tuhan ” yang saya tulis agak ” berbeda ” dengan yang umumnya difahami kebanyakan orang.
Pernah suatu ketika saya menulis kata-kata ” Tuhan ” yang saya tulis dalam bentuk tulisan kata yang tidak lazim dikenal orang yaitu ” Tu[h]an “,…..kemudian kontan saja membuat salah satu sahabat saya bertanya : “…..kenapa sih kata ” Tuhan ” kamu tulis ” Tu[h]an “….? Demikian ia bertanya kepada saya, lalu hari ini…saya mencoba menjelaskannya seperti ini :
Nah mengenai kata ” Tu[h]an” yg umumnya org tulis Tuhan, penjelasanx begini bos :
Coba deh qt buka QS.51(Adz Dzaariyat) Ayat 56 : ” Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya’buduwn” Artinya : ” Dan Aku (Allah) tdk menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” Demikian transliterasinya oleh para mufassirin (para penafsir Quran) umumnya. Kata kerja “liya’buduwn” berasal dari akar kata ” ‘abudu atau ‘abid “. ‘abid itu artinya ” hamba atau budak ” maka Allah dalam posisi Al Kholiq (pencipta) adalah ” Ma’bud ” atau dlm pengertian ” Yg di Abdi atau di ibadati “. Di dalam suatu perjalanan pengabdian maka salah satu bentuk pengabdian secara simbolik adalah dengan ” menyembah atau sembahyang”, yaitu prosesi secara ritual penyembahan kepada ” Sang Tuan ” sebagai ” Raja diraja ” yang teragung. Sedangkan essensi dari pengabdian itu sendiri bukanlah terletak pada prosesi ritualnya saja, akan tetapi lebih kepada ketaatan ” sang hamba atau sang budak ” di dalam melaksanakan secara ikhlas segala perintah, aturan atau undang-undang ” Sang Tuan ” yang menjadi tempat ” sang budak atau sang hamba ” bergantung akan segala hal kepada ” tuannya”. Jadi sesungguhnya akan lebih mudah dicerna dan difahami jika ” Allah ” di dudukkan sebagai ” Sang Tuan ” yang tertinggi. Artinya orang-orang sedunia ini mestinya sadar bahwa meskipun dia merasa adalah seorang ” tuan “, yg merasa bahwa segala kuasa, harta dan kedudukan ada padax, maka seyogianya dia SADAR bahwa dirinya itu sesungguhnya hanyalah seorang HAMBA atau BUDAK di hadapan ” Sang Tuan ” Yang Maha Agung itu. Jd janganlah qt terikut terus menerus tanpa ILMU kepada doktrin tentang kata ” Tuhan ” yang adanya hanya di Indonesia saja. Di luar negeri misalx org Arab bilang ” Allah ” atau dalam bahasa Inggeris dikenal dg ” The Lord atau The God ” yang akar katanya jelas dan yg dituju itu adalah ” Allah ” sebagai ” Tuan ” satu-satunya yg memiliki puncak keagungan, kebesaran dan kemuliaan tertinggi. Kalau kita mau jujur sebagai orang yang mau berpikir secara cerdas….maka padanan kata yang tepat dengan ” The God, The Lord, Allah atau YHWH (baca : Yahwe dalam bahasa Ibrani) ” itu adalah ” Tuan” dan bukan ” Tuhan “. Sebab di dalam kamus bahasa Indonesia maka pemaknaan arti kata ” Tuhan ” itu sebenarnya adalah ” Tuan” yg secara maknawi mudah dicerna dan jelas akar katanya. Akan tetapi kata ” Tuhan ” secara ilmu bahasa, jelas tidak ber-akar kata. akan tetapi pemaknaannya di sejajarkan dg arti dari kata ” tuan “. Jd kesimpulannya Tuhan sebagai ” Tuan ” dari semua makhluk di seantero jagad raya ini adalah yg memiliki segala kuasa,kemuliaan,keagungan dan kebesarn-Nya yang tentu saja berbeda dengan mereka yang meresa sebagai ” tuan ” yang pada hakekatnya hanyalah seorang abdi, hamba atau budak Allah.
Penyebab utama turunnya Azab Allah kepada masal manusia hari ini, karena manusia telah melampaui batas statusnya yg seharusnya hanya sebagai hamba,budak atau abdi TELAH BERUBAH menjadi ” andaad ” tandingan atau rival bagi Allah sebagai satu-satunya ” Tuan “. Coba qt baca sindiran Allah pada QS.45(Al Jaatsiyah) Ayat 23 yang berbunyi : ” Maka apakah pernah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberikan petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat), maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran? “. Demikian Penjelasan saya bos tentang kata ” Tuhan ” yang saya tulis dengan memasukkan huruf [h] seperti ini, agar orang-orang itu mau berfikir….semoga dimengerti. Salam dan Sejahtera selalu.Puji Allah. Tu[h]an semesta alam. Allah-nya Adam, Allah-nya Abraham (Ibrahim), Allah-nya Musa (Moses), Allah-nya Isa, Allah-nya Muhammad Rasulullah dan Allah kita semua….Wassalam.

Salam,
Andi Dahlan

About these ads
Categories: Allah, Ilah
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: